Konsep Pertanian Aeroponik
Penerapan pertanian di berbagai negara menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan sektor pertanian ditengah perkembangan infrastruktur yang semakin meningkat. Peningkatan angka pertumbuhan manusia menjadi salah satu faktor untuk memperluas pemukiman penduduk dan pembangunan fasilitas umum sebagai penunjang kebutuhan masyarakat. Pembangunan yang semakin meningkat menimbulkan berkurangnya lahan pertanian sebagai media tanam yang seharusnya menjadi tumpuan bagi pemenuhan kebutuhan pangan sehari hari. Tidak dapat diprediksi bahwa setiap tahun lahan pertanian yang masih kosong terus berkurang sehingga mengancam pertumbuhan dan perkembangan pertanian. Hal ini menjadi salah satu perhatian bagi masyarakat dan juga pemerintah dalam menjaga sistem pertanian terus dapat berjalan normal dan kebutuhan pangan dapat terus terpenuhi.
Salah satu alternatif solusi yang dapat diterapkan dalam mengatasi keterbatasan lahan pertanian adalah pengembangan pertanian tanpa menggunakan alternatif tanah. Penerapan ini dapat dikembangkan dedaerah perkotaan dan pemukiman padat penduduk yang minim lahan kosong, sehingga aktivitas pertanian dapat diatasi. Istilah pertanian tanpa media tanah sudah tidak menjadi salah satu hal yang asing bagi masyarakat sekitar dan hampir sebagian besar sudah diterapkan pada pertanian didaerah perkotaan. Pertanian tanpa menggunakan media tanah salah satunya dikenal dengan istilah Aeroponik. Aeroponik merupakan proses pertanian yang diterapkan tanpa harus bergantung dengan media tanah yang dibuat dengan cara digantung diudara pada lingkungan yang lembab (Wicaksono, 2017).
Aeroponik berasal dari dua kata, yaitu: Aero, yang berarti udara dan Ponus yang berarti daya. Pertaniand dengan sistem ini mengutamakan keberadaan udara tetap terjaga dengan menggunakan media air sebagai media untuk pertumbuhan tanaman. Ada dua sistem yang dapat digunakan dalam pertanian aeroponik, yaitu: aeroponik bertekanan rendah dan aeroponik bertekanan tinggi. Aeroponik bertekanan rendah ( Low Pressure Aeroponic ) merupakan sistem pertanian aeroponik yang lebih sederhana dan murah karena peralatan yang dibutuhkan hanya sprinkle/ sprayer dan pompa yang menggantung melalui sprinkle/sprayer.
Source: pertaniankeren93.blogspot
Sementara untuk Aeroponik bertekanan tinggi (Hard Pressure Aeroponic) merupakan sistem pertanian aeroponik yang memiliki standard yang lebih tinggi dengan penerapan yang lebih sulit. Pertanian aeroponik ini biasanya digunkan pada penelitian di luar angkasa oleh anggota NASA.
Prinsip Kerja Aeroponik:
Konsep pertanian Aeroponik sebenarnya hampir sama dengan pertanian hidroponik yang menggunkan media air sebagai media tanamn yang harus dialirkan pada tanaman yang dibudidaya. Perbedaan untuk pertanian Aeroponik ini sendiri terdapat pada air yang disemprotkan berbentuk kabut dengan kandungan nutrisi dan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Prinsip kerja yang diterapkan pada pertanian aeroponik adalah menggunakan styrofoa, yang dipasangkan sebua sprinkler yang berfungsi untuk memancarkan kabut larutan. Kabut ini mengandung hara yang disemprotkan pada tanaman dengan pancaran yang mengarah ketas hingga mengenai akar tanaman. Proses pertanian Aeroponik ini membutuhkan perawatan dan perhatian lebih agar cairan nutrisi tetap dialirkan. Sehingga, tanaman tidak mengalami kekeringan dan menyebabkan layu dan mati. Sementara porsi penyemprotan pada tanaman juga harus terukur agar tidak berlebihan dan terlalu kurang.
Source: wartabahasa.com
Kelebihan dan kekurangan pertanian Aeroponik:
Pertanian Aeroponik yang dapat dimanfaatkan pada lahan perkotaan atau daerah yang memiliki lahan kecil memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan selama proses pemanfaatan. Kelebihan yang dapat ditemui menurut Rosdiana (2014), yaitu:
Akar tanaman jauh lebih sedikit, sehingga penyerapan air tidak terlalu banyak
Memberikan ketersediaan air dengan porsi yang sama bagi tananaman yang dibudidaya sepanjang tahun
Memudahkan proses ketika menanam tanaman umbi - umbian sehingga lebih nyaman dan bersih
Optimalisasi aerasi pada akar
Meningkatkan produksi lebih pada lahan yang minim
Sementara untuk kelemahan sendiri dari pertanian Aeroponik, yaitu:
Biaya pembuatan pertanian Aeroponik mahal, sehingga membutuhkan investasi lebih
Aliran listrik harus benar - benar diperhatikan, apabila arus terputus alat tidak akan beroperasi
Tanaman yang baik ditanaman pada pertanian Aeroponik adalah tanaman sayur - sayuran dan tanaman umbi - umbian yang memiliki masa panen yang lebih pendek. Contoh sayuran yang dapat ditanami adalah sayur manis, keriting, cabai, tomat, kangkung, dan selada daun. Sementara untuk tanaman umbi - umbian dapat ditanami seperti: kentang, wortel, dan lobak. Proses atau langkah- langkah yang dapat dilakukan apabila mengelola pertanian dengan sistem Aeroponik, yaitu:
Penyemaian Benih
Proses penanaman tanaman pada pertanian Aeroponik dapat diawali dengan penyemaian benih agar tanaman siap dan tumbuh dengan baik. Penyemaian benih dilakukan pada rockwool dengan membuat lubang penyemaian dan menyimpan pada ruangan gelap. Setelah benih tumbuh dan memiliki daun sebanyak dua helai, berarti tanaman sudah siap untuk dipindahkan pada tempat Aeroponik untuk ditanami.
Membuat Instalasi Pengabutan dengan Pipa PVC
Persiapan instalasi pipa untuk pengabutan ini merupakan salah satu proses yang sangat penting agar pembudidayaan tanaman pada Aeroponik dapat maksimal. Fungsi dari pipa ini adalah sebagai saluran keluar masuknya larutan nutrisi dan unsur hara yang nantinya disemprotkan dalam bentuk kabut.
Source: Pertanian,terkini
Source :
Karsono, S., Sudarmodjo, dan Y. Sutiyoso. 2002. Hidroponik Skala Rumah Tangga. Memanfaatkan Rumah dan Pekarangan. Depok: PT. Agromedia Pustaka.
Sutanto, R., 2002. Penerapan Pertanian Organik. Permasyarakatan dan Pengembangannya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Wicaksono, A. W., Widasari, E. R., & Utaminingrum, F. 2017. Implementasi Sistem Kontrol dan Monitoring pH pada Tanaman Kentang Aeroponik secara Wireless. Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-ISSN, 2548, 964X.