Home »  Imateducation » Energi Bersih dan Terjangkau Berdasarkan SGDs di Indonesia
INFOKOM IMATEKTA 2022 / Published: 30 September 2022

ENERGI BERSIH DAN TERJANGKAU BERDASARKAN SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGS) DI INDONESIA

Pada saat ini energi dan sumber daya alam merupakan permasalahan yang masih sulit untuk mendapatkan solusi yang tepat. Masyarakat sangat bergantung pada sumber energi yang berasal dari fosil yang ketersediannnya saat ini sangat terbatas dan mulai habis. Ketersediaan sumber energi fosil di Indonesia akan habis jika sampai saat ini tidak ditemukan cadangan baru, menekan jumlah konsumsi, dan mengganti dengan sumber energi terbarukan. Pada 21 Oktober 2015, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau yang dikenal sebagai Sustainable Development Goals (SDGs) dibentuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menggantikan program sebelumnya, yakni Millenium Development Goals (MDGs).

SDGs memiliki cakupan yang lebih luas karena agenda ini terdiri atas 17 tujuan utama dan 169 target yang bersifat global dan dapat diaplikasikan secara universal. Salah satu dari 17 tujuan utama SDGs yaitu energi bersih dan terjangkau yang merupakan tujuan ketujuh. Tujuan ini terdapat tiga target agar terjaminnya akses universal terhadap energi yang berkelanjutan bagi setiap manusia yang ada di bumi. Setiap negara berkembang ditargetkan sudah memiliki dan memperluas infrastruktur yang dapat menyediakan energi bersih di tahun 2030. Pelaksanaan SDGs di Indonesia ditetapkan sesuai dengan Perpres No 59 tahun 2017 yang esensi dari tiap indikator diselaraskan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dengan Bappenas sebagai instansi yang bertanggung jawab dalam mengawasi pelaksanaan program tersebut. Dalam implementasi di Indonesia, tujuan ke tujuh tentang Energi Bersih dan Terjangkau lebih memanfaatkan potensi dari energi baru terbarukan.

Energi merupakan bagian penting untuk terlaksananya suatu kegiatan masyarakat yang berpengaruh terhadap perekonomian nasional. Kegiatan perekonomian memerlukan energi modern yang selalu tersedia, cukup, handal, dan memiliki harga yang kompetitif. Pemanfaatan energi secara modern dengan harga yang kompetitif menjadi fokus pengembangan energi bersih dan terjangkau. Energi merupakan faktor input pertumbuhan ekonomi nasional. Peran energi terhadap dampak perekonomian yang tentunya akan mempengaruhi pertahanan nasional (Sagala, 2000). Dengan demikian peran energi sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup manusia, apabila energi terkendala dalam ketersediaannya, maka akan berdampak pada aktivitas perekonomian.

Energi bersih dan terjangkau dapat diwujudkan melalui pengembangan EBT (Energi Baru Terbarukan) yang tepat. Contoh dari EBT yang sudah dikembangkan adalah energi yang berasal dari matahari, angin, air, panas bumi, dan biomassa. Biomassa berpotensi menjadi EBT karena berasal dari bahan organik seperti tumbuhan dan hewan yang mudah diperoleh dan dapat diperbaharui dengan prosedur pengelolaan yang tepat. Energi yang dihasilkan dari biomassa dapat berupa biogas, bioethanol, dan biodiesel yang memiliki efisiensi tinggi, praktis dalam penggunaan, dan ramah lingkungan. Penggunaan energi biomassa akan menggantikan energi fosil sehingga akan mengurangi pencemaran lingkungan baik di darat, air, maupun udara. Penelitian dan pengembangan serta pemakaian EBT, khususnya energi biomassa, telah mengalami kemajuan pesat di berbagai negara di dunia. Di Indonesia, penelitian dan pengembangan mulai banyak dilakukan, namun, pemakaian energi biomassa masih terbatas dan masih banyak mengalami kendala. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan teknologi untuk mengkonversi suatu biomassa menjadi energi, adanya pendapat masyarakat yang memilih untuk tetap menggunakan energi fosil, dan ketidaktahuan masyarakat mengenai pentingnya peran energi biomassa sebagai salah satu Energi Baru dan Terbarukan. Teknologi konversi energi dari biomassa menjadi bioenergi membutuhkan biaya yang besar sehingga masih dilakukan penelitian untuk mengembangkan teknologi mutakhir dengan biaya yang lebih murah.

Potensi pengembangan energi biomassa di Indonesia sangat besar karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Kegiatan pertanian dan peternakan menghasilkan banyak limbah yang dapat dimanfaatkan. Pemerintah, peneliti, pengusaha, dan akademisi perlu memberikan pemahaman dan mengubah pola pikir masyarakat yang masih menganggap remeh peran dari Energi Baru dan Terbarukan. Akademisi, khususnya mahasiswa, perlu memahami dampak penggunaan energi fosil dan potensi EBT sebagai energi masa depan sebelum mereka memberikan dan mengaplikasikan pemahaman energi yang benar ketika terjun dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dengan demikian, mahasiswa sebagai pemuda dapat berkontribusi dan berinovasi untuk mendukung pembangunan negara yang berkelanjutan yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). 

Adanya pengembangan energi biomassa diharapkan dapat menambah akses masyarakat untuk memperoleh energi, terutama energi listrik, yang sebelumnya tidak dapat disediakan secara total oleh energi fosil. Energi Baru dan Terbarukan, khususnya energi biomassa. Pemerataan akses energi menjadi salah satu upaya untuk mengurangi kesenjangan sosial sesuai poin pada SDGs. 


Source : 

Ishartono, Raharjo ST. 2015. Sustainable Development Goals (SDGs) dan pengentasan kemiskinan. Social Work Journal. 6 (2). 1-164.

Sagala. (2000). Peran Energi Dalam Pembangunan Nasional Memasuki Milenium. Widyanuklida. 3 (1). 1–5.

Tauhid, Dzaka Reihan. 2018. Energi Bersih dan Terjangkau Berdasarkan Sustainable Development Goals. Teknik Geologi Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran. 

Wohon, Maharanni Catherinna. Yoesgiantoro, Donny. Thamrin, Suyono. 2021. Kebijakan Pertahanan Terhadap Program Sustainable Development Goals. Jurnal Ketahanan Energi. 7(1). 1-18.